Hama Tanaman Jahe dan Strategi Pengendalian

Yuk Bagikan ..

Tanaman jahe (Zingiber officinale) adalah tanaman rempah-rempah yang penting dalam dunia kuliner dan memiliki banyak manfaat kesehatan. Namun, seperti tanaman lainnya, jahe rentan serangan oleh hama yang dapat mengancam produktivitas dan kualitasnya. Dalam artikel ini, kami akan membahas beberapa hama utama dan yang umum pada tanaman jahe, serta strategi pengendalian yang efektif untuk menjaga keberhasilan budidaya.

hama tanaman jahe

Jahe merupakan tanaman temu-temuan yang paling banyak terserang organisme pengganggu tanaman (OPT) daripada tanaman sejenis. Serangan hama dan penyakit menjadi kendala dalam budidaya tanaman ini. Berbagai jenis hama menyerang dan menimbulkan kerusakan pada akar, rimpang, pangkal batang, batang, dan daun. Rimpang mendapat serangan dua jenis lalat rimpang Mimegralla coeruleifrons dan Eumerus figurans dan kutu perisai Aspidiella hartii Cock.

BACA JUGA :  Budidaya Tanaman Jahe

Pengaruh hama ini  cukup besar. Misal, kerusakan pada akar dapat terjadi akibat serangan oleh uret Exopholis hypoleuca (Mardiningsih dan Balfas 2009).

Selain itu pada jahe ada pula penggerek pucuk Dichocrocis punctiferalis Guen. dan pemakan daun Udaspes folus Cram. (Nair 1980). Di daerah Bengkulu dan juga di Bogor ada lalat penggerek batang (Siswanto et al. 2009). Di antara hama-hama tersebut, hama yang sering dan berpotensi menyebabkan kerusakan adalah lalat rimpang M. coeruleifrons dan kutu A. hartii. Kerugian akibat akibat kerusakan akibat serangan hama tanaman jahe sering belum  rinci.

Daftar Hama Pada Tanaman Jahe, Gejala dan Cara Pengendalian

1. Lalat Rimpang

Ada 2 lalat rimpang yang menyerang rimpang jahe di pertanaman dan dapat pula terbawa ke gudang. Selama di penyimpanan biasanya lalat dewasa keluar dari rimpang, akan tetapi lalat tidak dapat berkembang biak dan menyerang rimpang kembali. Serangan kedua lalat ini berasosiasi dengan serangan penyakit. Lalat menyerang rimpang yang telah terinfeksi oleh penyakit layu bakteri, jamur atau oleh sebab lainnya. M. coeruleifrons lebih umum  menyerang rimpang jahe daripada E. figurans.

1.1 Mimegralla coeruleifrons

lalat rimpang tanaman jahe : Mimegralla coeruleifrons
 1.1.1 Biologi
Ciri-ciri dari lalat ini telah menurut Wikardi dan Balfas (1990).
  • Telur berwarna putih berukuran panjang kira-kira 0,75 dan lebar 0,19 mm.
  • Seekor betina dapat meletakkan telur mencapai 300 butir, rata-rata 136 butir (Balfas et al. 2001).
  • Di India, fekunditi berkisar 76 – 150 telur, rata-rata 130 telur (Ghorpade 1988).
  • Peletakanan telur satu persatu atau dalam kelompok (Balfas et al. 1997).
  • Umumnya telur dalam tanah kira-kira 0,5 – 2 cm permukaan tanah dan pada radius 5 cm (Balfas et al. 2001).
  • Telur sering juga dpada serasah, bagian batang bawah, dan rimpang yang membusuk.

Larva instar pertama masuk ke dalam rimpang dan berkembang di dalamnya hingga menjadi pupa di dalam rimpang. Lama stadia telur, larva, dan pupa berturut-turut 2-4, 9–13 dan 8-11 hari (Koya 1989). Serangan lalat ini terjadi bersamaan dengan serangan penyakit layu.

Lalat ini dapat berperan sebagai hama apabila tanaman telah terinfeksi oleh penyakit  akibat bakteri dan jamur atau oleh sebab lainnya (Balfas 2002). Pada tanaman yang sehat, tidak muncul serangan hama ini. Lalat dewasa M. coeruleifrons seringkali muncul pada bagian tanaman yang busuk dan telah terbukti bahwa lalat ini dapat membawa bakteri R. solanacerarum, dan dapat menularkan bakteri tersebut (Balfas et al. 2000).

1.1.2. Distribusi dan tanaman inang

Lalat ini tersebar di hampir seluruh sentra jahe di Indonesia, yaitu Bengkulu, Jawa Barat, dan Jawa Tengah ( Siswanto et al. 2009). Selain di Indonesia, hama ini juga ada di India, Australia, Burma, China, Hongkong, Malaysia, dan Filipina (Steyskal 1963). Di lapangan, hama ini lebih banyak menyerang jahe gajah daripada jahe emprit (Karmawati et al. 1990). Selain jahe, hama ini menyerang kunyit, kencur, temulawak, dan temu ireng (Balfas et al. 2001).

Berdasarkan observasi di lapangan di daerah Bogor, lalat ini juga ada pada ubi jalar, Amorphophalus companulatus L., Dioscorea alata L., dan Xanthosoma sagittijolium (L.) Schott. juga ada laporan sebagai tanaman inang dari hama ini.

1.2. Eumerus figurans B. 
Lalat rimpang :  Eumerus figurans B

Lalat ini mempunyai bentuk larva bulat dan lalat dewasa yang mirip lalat rumah (Wikardi dan Balfas 1991) serta lubang gerekan dalam rimpang yang cukup besar.
Selain tanaman Zingiberaceae, lalat ini menyerang berbagai tanaman umbi lapis lily, sisa tanaman nanas yang lapuk, dan taro yang membusuk (Mau dan Kessing 1992a).

1.3. Strategi Pengendalian Lalat Rimpang

Serangan lalat rimpang terjadi pada tanaman-tanaman yang terserang penyakit sehingga pengendalian hama ini tidak terlepas dari pengendalian penyakit. Cara pengendalian hama ini, adalah dengan mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat, bebas dari serangan penyakit layu bakteri, jamur, maupun sebab lainnya.

Solusi pengendalian penyakit layu bakteri  dengan mengusahakan tanah bebas dari patogen, menggunakan benih sehat, ‘intercropping”, dan rotasi, mengendalikan nematoda, gulma, menggunakan kultivar yang toleran/resisten apabila ada serta perbaikan tanah. Strategi pengendalian terhadap lalat rimpang sendiri dengan cara kultur teknis (tumpang sari, sanitasi), biologis (pemanfaatan musuh alami), dan pestisida (nabati dan sintetik).

 1.3.1. Kultur Teknis

Tumpang sari merupakan cara untuk menghambat serangga hama menemukan inangnya (Smith 1976). Penanaman jahe dan tanaman nilam baik sebagai pembatas maupun tumpangsari dapat menurunkan populasi larva dan pupa M. coeruleifrons serta rumpun yang terserang (Karmawati et. al. 1992). Tumpangsari jahe dan kopi dan kedelai serta jagung dapat mengurangi populasi larva dan pupa dalam rimpang jahe (Karmawati dan Kristina 1993).

1.3.2. Sanitasi

Kedua jenis lalat rimpang seringkali bertelur dan larva berkembang dalam sisa tanaman yang melapuk/membusuk. Oleh karena itu, pengumpulan dan pemusnahan sisa tanaman tersebut akan mengurangi populasi lalat di lapang sehingga resiko serangan hama akan berkurang.

1.3.3. Peningkatan pH 

Di India, serangan lalat rimpang paling rendah ditemukan pada jahe yang ditanam di tanah hitam dengan pH netral sampai alkalin (Sontaken dan Roul 2006). Rendahnya serangan lalat mungkin berhubungan dengan serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri maupun jamur. Serangan lalat ini tidak terjadi apabila tanaman tidak terserang penyakit. Kebanyakan patogen akan tertekan pada pH yang tinggi (Hidayah dan Djajadi 2009). Peningkatkan pH tanah melalui pemberian kapur pertanian pada lahan sebelum ditanam jahe dapat menekan penyakit sekaligus menekan lalat rimpang.

1.3.4. Biologis/Musuh alami

Di India, musuh alami yang keluar dari pupa M. coeruleifrons adalah Trichopria sp. (Jacob 1980a). Jamur Beauveria bassiana dapat menginfeksi larva lalat (Wikardi dalam Balfas 2002).

1.3.5. Pestisida 

Pestisida Nabati Applikasi Trichoderma harsianum bersamaan dengan adonan mimba dapat mencegah serangan penyakit (Anon 1999). Penyemprotan dengan mimba dengan kombinasi dengan perlakuan benih dapat menekan serangan lalat rimpang (Balfas et al. 2011). Pestisida Sintetik Penggunaan insektisida sintetik diklorfos yang disemprotkan pada pertanaman jahe dapat mengurangi populasi larva dan pupa dan rumpun yang terserang (Karmawati et al. 1992). Penggunaan insektisida sintetik kudasafos, karbosulfan, dan karbofuran cara tabur pada lubang tanam tidak berpengaruh nyata pada populasi larva maupun pupa dalam rimpang (Anon 1999).

2. Kutu perisai Aspidiella hartii ( Diaspididae; Homoptera) C. Aspidiella hartii

hama tanaman jahe : kutu perisai
2.1. Biologi

A. hartii termasuk ke dalam famili Diaspididae, sub ordo Homoptera, ordo Hemiptera). Sebelumnya serangga ini teridentifikasi sebagai Aspidiotus hartii Cockerell (Williams dan Watson 1988). Serangga- serangga yang tergolong dalam famili ini mempunyai ciri serangga betina tidak bersayap atau vestigial antena, tidak bertungkai, tertutupi oleh perisai yang keras dan berlilin.

A. hartii berukuran kecil, berbentuk bulat, pipih, dan berwarna kuning yang tertutupi perisai berwarna kecokelatan sampai abu-abu (Jacob 1980b). Kutu A. harii berkembang biak secara ovovivipar dan kadang-kadang partenogenetik. Telur berbentuk oval, berukuran panjang 0,23–0,28 mm dan lebar 0,102 –0,117 mm, berwarna putih bening sampai kuning terang .

Nimfa yang baru keluar (instar pertama) berukuran kira-kira 1 mm, dapat bergerak aktif dan setelah mengisap rimpang akan menetap hingga menjadi dewasa. Pembedaan serangga jantan dan betina ini dari bentuk dan ukuran perisai. Perisai jantan berbentuk oval dengan panjang perisai 0,798 mm dan lebar 0,564 mm, perisai betina berbentuk agak bulat dan ukuran lebih besar, panjang 1,553 dan lebar 1,320 mm.

Perbedaan ini mulai terlihat pada minggu kedua. Pada kutu perisai Quadraspidiotus pernicious serangga jantan terdiri atas instar satu, dua, tiga (prepupa), instar 4 (pupa), dan serangga dewasa bersayap; serangga betina terdiri atas nimfa instar satu, dua, dan dewasa (Woodward et al. 1979). Kutu A. hartii juga memiliki perilaku seperti halnya Q. pernicious (Naibaho 1999). Lama hidup sejak instar pertama hingga menjadi dewasa berlangsung selama 21 hari (jantan) dan 35 – 40 hari (betina) .

Kutu A. hartii merusak pada tanaman dengan cara mengisap pada jaringan floem (Mau dan Kessing 1992b). Setelah nimfa mengisap pada permukaan rimpang, perisai sedikit demi sedikit terbentuk. Keturunan oleh satu ekor betina saja mencapai 10 ekor, namun dari 1 ekor betina yang berpasangan dengan jantan mencapai 123 ekor. Seekor betina dapat bertelur sebanyak 100 butir

2.2. Distribusi, kerusakan, dan tanaman inang

A. hartii menyerang pertanaman jahe di Jawa Barat dan juga di Jawa Tengah dan Bengkulu (Siswanto et al. 2008). Ada laporan serangan kutu ini di beberapa tempat di Sumatera (Balfas 1998). Selain di Indonesia, serangga ini muncul pula di pulau Karibia, Ekuador, Fiji, Papua Nugini, Filipina, pulau Solomon, Tonga, Ghana, Hawaii, Honduras, Hong Kong, India, pantai Ivory, Malaya, Nigeria, Panama, Trinidad, Vanuatu dan Zambia (Mau dan Kessing 1992b).

Hasil observasi pada rimpang temu-temuan yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat terlihat A. hartii menyerang jahe putih besar, jahe putih kecil, jahe merah, kencur, kunyit, dan temulawak dengan tingkat serangan yang bervariasi.

Serangan kutu ini tergolong ringan, kecuali pada jahe putih besar dan temulawak mencapai serangan berat. Akan tetapi pada temu-temuan di Sukamulya dengan penanaman secara organik dan anorganik, serangan kutu terjadi pada jahe merah dan kunyit, tetapi tidak ada pada pada temulawak (Rizal et al. 2007).

Pada budidaya organik terdapat serangan kutu ini pada rimpang kunyit sedikit lebih tinggi daripada lahan anorganik. Kutu ini juga menyerang tanaman ”water yam” (Dioscorea alata L.) (Iheagwam 1986) dan jenis lainnya (D. esculenta, D. rotundata dan D. dumetorum) (Akinlosotu 1988).

Gejala serangan

Di India, kutu ini menyerang Amorphophalus companulatus L (Reghupathy et al. 1976 dalam Jacob 1980a), D. alata dan Xanthosoma sagittifolium Schott (Jacob 1980b). Kerusakan akibatkan kutu ini secara individual adalah kecil, akan tetapi pada populasi tinggi, tanaman terlihat menguning, defoliasi, berkurangnya rimpang, dan menurunnya vigor tanaman (Mau dan Kessing 1992b).

Rimpang jahe dalam gudang yang terserang menjadi kisut seperti mengering (Nair 1980). Rimpang yang terserang menjadi kusam sehingga serangga ini empunyai sebutan sebagai ”cosmetical pest”. Hal yang menjadi penting akibat serangan kutu ini adalah terdapat masalah dalam ekspor jahe segar Indonesia ke USA dan Jepang. Pusat Karantina Indonesia telah menerima permintaan dari negara importir tersebut untuk melakukan tindakan mandatory fumigation, pengiriman kembali dan pemusnahan jahe segar (Suparno 1996).

Dengan adanya masalah kutu ini dapat berakibat kurangnya daya saing ekspor jahe segar. Serangan kutu ini berasal dari pertanaman di lapang dan terbawa dalam gudang penyimpanan. Sebaliknya, serangan dapat terjadi karena penggunaan benih yang telah terinfestasi kutu ini. Kutu ini mudah berkembang biak dalam penyimpanan sehingga serangannya meningkat selama penyimpanan.

2.3. Cara pengendalian 

Pengelolaan hama berpedoman pada konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yaitu dengan memadukan berbagai cara pengendalian, antara lain secara kultur teknis, biologis, fisik/mekanis, dan insektisida.

 2.3.1. Kultur teknis

Selama ini belum jelas aspek budidaya yang dapat menekan A. hartii. Kutu ini mempunyai beberapa tanaman inang lain selain jahe. Pencegahan adalah dengan menghindari penanaman pada lahan yang bekas tanaman salah satu tanaman inangnya. Di India telah ada adanya 87 dari 191 galur kunyit yang tidak terserang oleh kutu ini (Regupathy et al. 1976). Di Indonesia belum pernah ada pengujian/skrining ketahanan nomor-nomor jahe terhadap kutu ini. Hal ini merupakan salah satu bahan penelitian yang perlu  untuk mendapatkan tanaman jahe tahan atau toleran terhadap kutu ini.

2.3.2. Biologi

Pengendalian hama secara biologis dapat dengan cara inokulasi, inundasi dan konservasi musuh alami. Cara inokulasi dan inundasi tidak mudah  karena perlu perbanyakan musuh alami di laboratorium. Cara yang lebih mudah adalah mengupayakan lingkungan yang menguntungkan bagi parasitoid, berupa penyediaan tanaman berbunga, menghindari penggunaan insektisida yang memusnahkan parasitoid. Dari rimpang jahe yang baru panen kira-kira 80–90%

A. hartii yang di koleksi terlihat permukaan perisai berlubang-lubang yang merupakan tempat keluarnya parasitoid. Ada dua jenis parasitoid yang belum tahu jenisnya dan yang termasuk dalam famili Encyrtidae dan Eupelmidae, Hymenoptera (Balfas dan Siswanto 2003). Di India telah ada laporan  adanya dua jenis parasitoid, yaitu Physcus sp. (Aphelinidae, Hymenoptera) dan Adelencyrtus moderatus (Encyrtidae, Hymenoptera) (Jacob 1980b).

2.3.3. Fisik

Penggunaan minyak mineral bisa saja dalam pengendalian tungau, kutu perisai, kutu putih, psyllid, aphid, leafhopper. Perendaman air panas 43–55º C selama beberapa menit sampai berapa jam  untuk mengendalikan serangga dan nematoda (Vincent et al. 2003).

Perendaman air panas pada rimpang jahe terinfestasi A. hartii pada suhu 50º C selama 10 menit mengakibatkan kematian kutu 50% (Balfas dan Djiwanti 2004). Untuk meningkatkan mortalitas perlu dicoba pada suhu yang lebih tinggi atau perendaman yang lebih lama tetapi tidak berpengaruh terhadap viabilitas benih. Penggunaan alat pencuci bertekanan tinggi untuk menghilangkan kutu perisai efektif untuk mengendalikan hama pada jeruk yang telah dipanen hingga 98% (Walker et al. 1996).

Upaya sejenis telah dilakukan oleh pedagang pengumpul dengan cara sortasi, pencucian, dan penyikatan pada permukaan rimpang, kemudian dikering anginkan (Balfas 1998). Dengan cara demikian mampu membersihkan kutu-kutu di sebelah luar, namun perlu dievaluasi apakah cara tersebut dapat menghilangkan seluruh kutu yang biasanya terselip di bawah kulit luar rimpang.

Hasil observasi penggunaan Tween 20 dapat mengurangi serangan kutu akibat dari permukaan rimpang menjadi licin nimfa instar pertama tidak dapat bertahan. Untuk itu perlu dilakukan pengujian berbagai jenis minyak terhadap kelangsungan hidup A. hartii, seperti disebutkan oleh Vincent et al. (2003) bahwa minyak mineral dapat sebagai agen pengendali kutu perisai.

2.3.4. Insektisida nabati 

Pemanfaatan bahan pengendali yang ramah lingkungan sangat perlu untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetik. Di samping itu dengan berkembangnya pertanian organik maka butuh cara pengendalian tanpa menggunakan bahan kimia sintetik.

Salah satu insektisida nabati untuk pengendalian hama adalah berasal dari biji mimba. Pemanfaatan serbuk Biji Mimba (SBM) untuk mengendalikan hama kapas di lapang dengan efektifitas yang sama dengan insektisida sintetik (Subiyakto 2002).

Penelitian penggunaan insektisida dengan menggunakan ekstrak mimba dan ekstrak jarak kepyar ycengan campur dengan Tween 20 sebagai pengemulsi dapat menekan populasi lebih dari 80% di laboratorium maupun pada tiga bulan setelah tanam dengan efektifitas yang sama dengan insektisida sintetik.

2.3.5. Insektisida sintetik

Penggunaan insektisida berbahan aktif karbosulfan dalam formulasi EC dan ST dapat melindungi rimpang hingga tiga bulan setelah tanam.

Perlakuan insektisida pada yam di samping dapat mengendalikan hama yang menyerang (termasuk A. hartii) juga dengan nyata dapat mengurangi infeksi oleh jamur karena kerusakan pada yam oleh serangga selama penyimpanan sangat penting untuk terjadinya penyakit oleh jamur (Morse et al. 2000).

Penggunaan metil bromida sebagai fumigan telah ada ujicoba oleh Balai Karantina Tumbuhan Begawan Medan (Anon 1996). Sejak tahun 2008 penggunaan metil bromida di Indonesia telah dilarang, kecuali tujuan karantina dan pra pengapalan.

Sebagai alternatif saat ini sedang ada pengembangan biofumigan dari tanaman famili Brassicaceae (Yulianti dan Supriadi 2008). Balai Penelitian Tanaman Sayuran telah mendapatkan campuran tanaman bubuk Lantana camara dan Tephrosia vogellii yang efektif melindungi kentang dari serangan hama gudang dalam penyimpanan. Pemanfaatan bahan nabati yang bersifat demikian perlu pengujian untuk melindungi rimpang jahe terhadap hama gudang selama penyimpanan.

3. Hama- Hama Lain Yang Menyerang Jahe

3.1. Valanga nigricornis (Burm.) (Acrididae ; Orthoptera) 

Penemuan belalang ini di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan daerah lain (Kalshoven 1981). Nimfa dan imago memakan daun dan merupakan serangga yang polifag (menyerang berbagai jenis tanaman).

hama tanama jahe : belalang

Siklus hidupnya terdiri atas telur, nimfa, dan imago. Warna tubuhnya adalah abu-abu kecokelatan mempunyai bercak-bercak terang pada femur belakang, tibia belakang berwarna kemerahan atau ungu, sedang permukaan sayap bawah berwarna merah pada pangkalnya. Peletakan telur-telur di dalam tanah 2-3 kelompok pada kedalaman 5-8 cm yang berisi dengan masa busa yang mengeras.

Nimfa muda berwarna kuning kehijauan dengan bercak-bercak hitam; nimfa-nimfa ini menghabiskan daun yang sedang tumbuh dan mencapai puncak pohon dalam waktu 2 hari. Selanjutnya, nimfa-nimfa bervariasi baik dalam warna maupun polanya, kebanyakan abu-abu dan kuning, seringkali gelap sampai hitam kecokelatan. Telur-telur di laboratorium di dalam tanah lembab menetas setelah 5-7,5 bulan.

Perkembangan di lapang dari nimfa yang baru menetas sampai imago bersayap berlangsung sekitar 80 hari. Untuk mencegah peletakan telur , ad anajuran untuk menanam tanaman penutup tanah di sekitar pertanaman. Pengendalian mekanis terhadap telur-telur dan nimfa-nimfa muda pada tempat peletakan telur juga sangat.

3.2. Udaspes folus (Hesperiidae : Lepidoptera)

Distribusi U. folus meliputi China Selatan, India, dan Malaysia (Hill 1983).Larva menyerang tanaman dengan memotong daun, melipatnya ke arah permukaan atas daun, sehingga larva berada di dalam lipatan tersebut. Pada serangan berat, larva hanya menyisakan batang dan tulang daun. Ketika menjelang menetas berubah warna menjadi putih dengan bagian atasnya merah.

Menurut Mardiningsih dan Baringbing (2006), larva berwarna hijau, panjang mencapai 3,7 cm. Pupa berwarna kuning kehijauan, panjang mencapai 3,9 cm. Warna imago cokelat dengan bercak-bercak putih kekuningan pada sayap depan dan sayap belakang. Panjang tubuh imago + 1,5 cm dan rentang sayap + 4,75 cm.

hama tanaman jahe : Udaspes folus

Menurut Nair (1980) dan Jacob (1980a), di India U. folus merupakan hama yang menyerang tanaman jahe dan kunyit. Menurut Abraham et al. (1975), rata-rata masa telur sampai menjadi imago 28,6 hari pada jahe dengan lama hidup 4 hari untuk imago jantan dan 6,7 hari untuk imago betina.

Larva tersebut terdiri atas 5 instar. Tanaman inang lain ialah Alpinia nutans, Curcuma angustifoli, Ellateria cardamomum, Aframomum melequeta, Hedychium, dan Curcuma amada. Menurut Nair (1980a), parasitoid yang menyerang hama ini ialah Cercoymia sp. (Tachinidae), Apenteles sp. (Braconidae), Sympiesis sp. (Eulophidae), Brachymeria coxodentata (Chalcididae), dan nematoda mermethid. Menurut Anandaraj et al. (2001), pada serangan berat, pengendalian ulat ini dengan menyemprot karbaril 0,1% atau dimetoat 0,05%.

3.3. Panchaetothrips indicus Bagnall (Thripidae: Thysanoptera)

Menurut Hill (1983), trips ini juga tersebar di India. Gejala serangannya ialahDaun menggulung ke atas dan warnanya menjadi hijau keputihan. Nimfa dan imago berada di dalam gulungan daun tersebut. Daun yang terserang akhirnya menjadi kering (Mardiningsih dan Baringbing 2006).

hama tanaman jahe : Panchaetothrips indicus Bagnall

Ciri-ciri serangga ini menurut Palmer et al. (1989):

  • Sayap depan sering tidak nyata
  • Longitudinal, pembuluh dengan seta, dan kadang-kadang dengan seta melintang.
  • Permukaan sayap tertutup oleh mikrotrikhia.
  • Serangga betina dengan ovipositor seperti gergaji, bengkok ke bawah menjauhi tubuh.
  • Antena biasanya 7 atau 8 segmen, segmen III dan IV dengan sensoria berbentuk kerucut, beberapa spesies dengan daerah sensoria seperti pita yang menyambung, dekat dengan pangkal segmen, tanpa dengan sensoria linear.

Untuk mengendalikan trips secara umum, menggunakan senyawa organik alami seperti nikotin dan rotenon. Menurut Hill (1983), penggunaan jenis insektisida sintetik yaitu diazinon, diklorvos, dimetoat, fenitrotion, fention, malation, ometoat, oxydemeton-metil, forat dan fosalon.

3.4. Lalat penggerek batang (Agromyzidae: Diptera) G.

Lalat penggerek batang Serangan hama penggerek pucuk/batang jahe ini tidak pernah ada laporan sebelumnya di Indonesia. Hasil survei di beberapa lokasi sentra jahe di Indonesia tahun 2008 ada serangan hama ini terutama di Bengkulu, selain itu gejala yang sama juga di daerah Sukabumi, Jawa Barat (Siswanto et al. 2009) dan di Cimanggu, Bogor.

lalat penggerek batang tanaman jahe

Di India, Conogethes punciferalis Guen (Lepidoptera) sebutannya shoot borer merupakan serangga penting yang banyak menyerang batang semu tanaman jahe. Hama ini sebarannya meliputi Asia dan Asia Tenggara juga Australia. Hasil pengamatan pada tanaman jahe yang terserang mengindikasikasikan bahwa serangan terjadi mulai dari pucuk atau tunas daun yang masih menggulung.

Selanjutnya larva makan jaringan batang jahe dari atas ke arah bawah hingga pangkal batang. Gejala yang nampak adalah batang jahe hingga tunas menjadi kering dan mati, mulai dari titik tumbuhnya yang berwarna cokelat dan kering (Siswanto dan Wahyuno 2010). Hama ini perlu jadi perhatian karena belum pernah laporan serangan hama ini pada tanaman jahe di beberapa daerah sentra jahe di Indonesia (Siswanto et al. 2008).

Scroll to Top