Jamur merang (Volvariella volvacea), atau jamur tiram, adalah salah satu jenis jamur yang populer di Asia Tenggara dan berbagai negara tropis. Kelezatan dan nilai gizi tinggi dari jamur merang membuatnya menjadi pilihan yang menarik untuk dibudidayakan di rumah. Dalam artikel ini, kita akan membahas langkah-langkah yang diperlukan untuk budidaya jamur merang secara sukses di rumah.

Pengenalan jamur merang
Jamur merang dapat tumbuh pada media limbah, karena jamur mampu mendegradasi limbah organik. Dengan kemampuannya tersebut jamur dapat dimanfaatkan untuk menambah nilai guna limbah. Jamur merang termasuk dalam golongan jamur saprofit yaitu jamur yang tumbuh pada substrat organik dari hewan maupun tumbuhan yang sudah mati dan akan mengubah substrat menjadi zat yang mudah diserap.
BACA JUGA : Budidaya Jamur Tiram
Jamur merang merupakan jenis jamur yang pertama kali jadi budidaya di Cina sekitar tahun 1650, dan mulai budidayakan di Indonesia pada tahun 1950. Secara taksonomi menurut Singer (1975) jamur merang masuk dalam klasifikasi sebagai berikut :
- Kelas : Basidiomycetes
- Subkelas : Homobasidiomycetes
- Ordo : Agaricales
- Famili : Plutaceae
- Genus : Volvariella
- Spesies : Volvariella volvaceae
Ciri-ciri jamur merang
Jamur merang memiliki tubuh buah yang berbentuk seperti payung dengan tutup jamur yang cembung dan batang yang relatif panjang. Tutupnya biasanya berwarna putih hingga cokelat muda, dan batangnya berwarna putih. Salah satu ciri khas jamur merang adalah lapisan yang menutupi tutupnya (volva) yang bisa dilepas saat jamur masih muda.
Rasa dan Tekstur
Jamur merang memiliki rasa yang lembut, manis, dan sedikit gurih. Teksturnya kenyal dan cocok untuk berbagai jenis masakan.
Pertumbuhan Cepat
Salah satu keunggulan jamur merang adalah kemampuannya untuk tumbuh dengan cepat. Mereka dapat dipanen hanya dalam beberapa hari setelah penanaman, membuatnya menjadi pilihan yang populer untuk budidaya komersial.
Kandungan Nutrisi
Jamur Merang adalah makanan dengan gizi yang baik, dari hasil penelitian, rata-rata jamur mengandung 19-35 persen protein lebih tinggi
dibanding beras (7,38 persen) dan gandum (13,2 persen). Asam amino esensial yang terdapat pada jamur, ada sekitar sembilan jenis dari 20
asam amino yang dikenal. Yang istimewa 72 persen lemaknya tidak jenuh, jamur juga mengandung berbagai jenis vitamin, antara lain B1
(thiamine), B2 (riboflavine), niasin dan biotin.
Selain elemen mikro, jamur juga mengandung berbagai jenis mineral, antara lain K, P, Ca, Na, Mg, dan Cu. Kandungan serat mulai 7,4-24,6 persen sangat baik bagi pencernaan. Jamur mempunyai kandungan kalori yang sangat rendah sehingga cocok bagi pelaku diet.
Penggunaan Kuliner
Jamur merang sering digunakan dalam hidangan Asia Tenggara, terutama dalam tumisan, sup, dan hidangan daging. Mereka juga bisa diiris tipis dan dimasak dalam tumisan atau dijadikan bahan tambahan dalam nasi goreng atau mie goreng.
Budidaya Jamur Merang
Budidaya jamur merang dalam kondisi yang terkontrol, seperti dalam ruangan atau rumah kaca. Proses budidaya melibatkan substrat organik seperti jerami atau sekam yang tercampur dengan bibit jamur merang. Suhu dan kelembaban yang tepat sangat penting untuk pertumbuhan yang baik.
Keamanan
Jamur merang termasuk jenis jamur yang aman untuk konsumsi, asalkan berasal dari sumber yang terpercaya dan tidak terkontaminasi oleh jamur lain yang beracun.
Persiapan Sarana Produksi
Sebelum melangkah dalam tahap budi daya, persiapan sarana produksi sangatlah perlu. Dengan adanya dukungan sarana yang memadai, maka proses budi daya akan berjalan dengan baik.
A. Pemilihan Lokasi
- Lokasi sesuai dengan syarat tumbuh jamur. Syarat tumbuh yang utama adalah suhu, oleh karena itu lokasi harus sesuaikan dengan suhu lingkungan. Jamur merang dapat tumbuh dengan baik pada suhu 30–35°C dan sesuai budidayakan di dataran rendah.
- Lokasi juga harus bersih, jauh dari pabrik atau pembuangan limbah berbahaya. Hal ini bertujuan untuk menghindari jamur dari hama, penyakit, dan kontaminasi senyawa yang berbahaya. Jamur mempunyai kemampuan menyerap logam berat, meskipun konsentrasinya kecil.
- Untuk menghemat biaya produksi, sebaiknya tempat budi daya dekat dengan sumber bahan baku.
- Lokasi harus dekat dengan sumber air. Sumber air harus tersedia dalam keadaan cukup, bersih, dan tidak tercemar. Hal ini penting, karena air merupakan kebutuhan yang sangat penting,terutama pada saat proses pembuatan media dan masa pembentukan tubuh buah.
- Lokasi harus mudah akses ke instalasi listrik. Butuh listrik untuk memompa air, membantu dalam sirkulasi udara dan menerangi ruangan.
B. Rumah Jamur (Kumbung)
Budidaya jamur merang biasanya menggunakan rumah jamur (kumbung) sistem semi permanen. Sistem semi permanen adalah bahan yang untuk membuat rumah jamur menggunakan bahan yang sederhana, sehingga akan mudah pemindahannya. Investasi untuk membuatnya kecil. Dengan demikian cocok untuk budi daya jamur skala kecil atau industri menengah. Tempat untuk membudidayakan jamur atau rumah jamur sederhana berbentuk kumbung mempunyai manfaat sebagai berikut:
- Melindungi jamur dari kondisi lingkungan luar yang kurang mendukung, misalnya angin yang terlampau kencang.
- Memudahkan pengelolaan suhu di dalam kumbung.
- Menghemat lahan karena dapat disusun dengan menggunakan rak.
- Saat budi daya tidak tergantung pada musim.
Posisi rak dalam kumbung 


A. Jalan
B. Tempat menyimpan jerami
C. Tempat menyimpan bahan tambahan
D. Ruangan pengomposan
E. Ruang penyiapan bibit
F. Rumah jamur/kumbung
G. Tempat pengepakan (Pasca panen)
Bagian-bagian dari rumah kumbung tersebut sebagai berikut:
- Dindingnya terbuat dari bilik bambu dilapisi plastik untuk lebih menstabilkan suhu dalam kumbung. Di bagian paling luar dinding bisa dilapisi lagi dengan styroform.
- Permukaan lantai sebaiknya disemen untuk memudahkan dalam merawat kebersihan kumbung. Apabila tidak disemen tanah sebaiknya dilapisi dengan pasir dan kapur.
- Dalam budidaya jamur merang, sterilisasi dilaksanakan dalam kumbung, maka di dalam kumbung harus dilengkapi dengan pipa yang diberi lubang-lubang kecil. Jarak antar lubang sekitar 20 cm. Kegunaan dari pipa tersebut adalah untuk mengalirkan uap air panas pada saat proses sterilisasi.
- Atap bangunan dapat terbuat dari rumbia yang dilapisi plastik pada bagian dalamnya.
- Untuk mengatur sirkulasi udara, kumbung harus dilengkapi vertilasi berupa jendela.

C. Peralatan yang Dibutuhkan
Kebutuhan peralatan biasanya sesuaikan dengan besarnya skala usaha. Skala usaha jamur dapat terbagi menjadi 3 yaitu :
- Skala kecil, hanya menggunakan satu kumbung (4 x 7 m2),dengan kapasitas produksi (total produksi) 200 – 250 kg.
- Skala menengah/sedang menggunakan 2 – 5 kumbung dengan kapasitas produksi 400 – 1250 kg.
- Skala besar menggunakan lebih dari 5 kumbung dengan kapasitas produksi lebih dari 1250 kg.
- Sekop, sekop garpu, terpal plastik, dan parang untuk menyiapkan media.
- Drum sebagai tempat air, dan bahan bakar/kompor semawar untuk sterilisasi.
- Sprayer untuk pengabutan dan pemeliharaan Keranjang dan pisau untuk membersihkan jamur saat pascapanen.
- Timbangan untuk mengukur berat sarana produksi dan hasil panen.
- Thermometer untuk mengukur suhu, dan Hygro meter untuk mengukur kelembaban.
BACA JUGA : Mengenal Nama Jenis Jamur yang Bisa Dikonsumsi, Gambar dan Nama Ilmiah
Tahapan Budidaya Jamur Merang
A. Pembuatan Kompos
Pengomposan dengan tujuan untuk mengaktifkan mikroflora termofilik, yakni bakteri dan fungi yang akan merombak selulosa, hemiselulosa, serta lignin, sehingga lebih mudah tercerna oleh jamur. Selama proses pengomposan akan timbul panas yang dapat mematikan organisme pesaing yang merugikan bagi pertumbuhan jamur.
Sebagai bahan baku tempat (media) tumbuhnya jamur merang yaitu jerami. Bahan baku ini dapat kombinasi dengan limbah pertanian yang tersedia di sekitar lokasi budidaya, misalnya kapas bekas dari pemintalan benang, ampas aren, ampas tebu, kardus bekas, eceng gondok yang telah mengalami pengeringan. Bahan tambahan lain yaitu bekatul sebagai sumber karbohidrat, kapur untuk menetralkan media, dan penambahan kotoran ayam untuk meningkatkan kadar nitrogen dalam media. Adapun secara lengkap komposisi media untuk budidaya jamur merang dengan total produksi 450 kg pada tabel berikut.
| No | Bahan | Volume | Satuan |
|---|---|---|---|
| 1 | Jerami kering | 2 | ton |
| 2 | Bekatul | 40 | kg |
| 3 | Kapur | 300 | kg |
| 4 | Kapas bekas pemintalan | 300 | kg |
| 5 | Urea | 2 | kg |
| 6 | Kotoran ayam | 100 | kg |
Pembuatan kompos dapat dilakukan di dalam ruangan atau di ruangan beratap, walaupun tidak berdinding. Permukaan bawah tempat pengomposan sebaiknya disemen atau dilapisi plastik/terpal.
Dalam pembuatan kompos, bahan-bahan di atas terbagi dua, yaitu satu bagian komposkan tersendiri (media utama saja) dan satu bagian lagi pemberian media tambahan, lalu komposkan (media utama+ media tambahan).
Setelah kedua kompos tersebut selesai, kedua macam kompos tersebut campur secara merata.
Langkah-langkah pembuatan media kompos (media utama) sebagai berikut :

Media tambahan seperti kapas atau ampas aren sebaiknya komposkan sendiri, tetapi dalam waktu yang bersamaan. Tujuan pemberian media tambahan ini untuk meningkatkan hasil produksi sekaligus untuk memanfaatkan limbah yang ada di sekitar lokasi.
Pembuatan media tambahan
Cara pembuatan media atas:
- Ampas aren, pupuk ayam campur dengan kapur sebanyak 5 kg aduk sampai rata.
- Kemudian sirami dengan air.
- Media yang sudah tersiram tutup rapat dengan plastik atau terpal dan diamkan selama 7-30 hari.
- Media yang sudah permentasi lakukan pembalikan dengan menambahkan dedak sebanyak 50-75 kg dan aduk sampai merata.
- Kemudian siram lagi dengan air ± 20-30 liter.
- Kemudian media tutup kembali dan diamkan selama tiga hari.
Pengomposan media utama + media tambahan tidak berbeda dengan pengomposan media utama. Perbedaannya hanya pada lapisan jerami (diatasnya) diberi kapas atau ampas aren. Dengan demikian, susunannya menjadi jerami, diatasnya diberi kapas atau ampas aren, kemudian campuran dari bekatul, kapur, urea, dan kotoran ayam. Begitu seterusnya disusun secara berselang-seling hingga 1,5 m, kemudian ditutup dengan plastik/terpal.
Ciri jerami yang telah menjadi kompos adalah :
- Tidak berbau amoniak.
- Warna kompos coklat sampai dengan hitam.
- Teksturnya lunak.
- Kadar airnya 65% yang diukur dengan cara memijatnya, bila terasa basah tetapi tidak menetes, berarti kadar airnya sudah sesuai.
- pH kompos 7 – 7,5

B. Sterilisasi


C. Penanaman Bibit
D. Penumbuhan Tubuh Buah
Setelah penanaman bibit, tahap berikutnya adalah masa inkubasi yaitu masa penumbuhan miselium. Pada saat inkubasi, pintu dan jendela kumbung ditutup rapat, karena oksigen yang dibutuhkan hanya sedikit sekali. Dengan kondisi yang tertutup tersebut, suhu ruangan dipertahankan pada kisaran 30° C – 35° C.
Pengontrolan suhu dan pemeriksaan adanya kontaminan harus selalu. Apabila terjadi kontaminasi, media yang yang bercendawan atau jamur lain harus segera buang.
Pada hari ke 4 dari pemberian bibit, awal masa generatif yaitu penumbuhan calon tubuh buah. Pada fase ini jendela buka, agar cahaya matahari dan sirkulasi udara dapat berjalan baik. Hal ini untuk memacu terbentuknya tubuh buah. Agar terbentuk tubuh buah memerlukan kadar karbon dioksida kurang dari 0,08 – 0,05 %. Kelembaban pada saat penumbuhan tubuh buah 80 – 90 %.
Pengukuran kelembaban ini dengan melihat tingkat kebasahan media. Media tidak boleh kering, tetapi juga tidak terlalu basah. Kadar air media yang cukup, tandanya tidak meneteskan air, bila memijit media.

E. Pemanenan
bibit. Jamur merang bisa panen adalah jamur dalam stadium kancing. Konsumen kurang berminat pada jamur merang yang payungnya sudah mekar. Oleh karena itu, usahakan waktu panen tidak terlambat.

Penutup
Budidaya jamur merang dapat menjadi ide usaha yang menguntungkan. Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat menikmati hasil panen jamur merang segar yang lezat dan sehat. Selain itu, budidaya jamur merang juga ramah lingkungan karena mengurangi limbah organik.
Sumber :
- Budhi Widiastuti, Budidaya jamur kompos, jamur merang dan jamur kancing, Penebar Swadaya, 2007.
- Parjimo dan Agus Andoko, Budidaya jamur, jamur kuping, jamur tiram, dan jamur merang, Agro Media Pustaka 2007
